Oleh : Andhika Rachma
Penanganan pascabencana Aceh dalam beberapa pekan terakhir menunjukkan suatuperkembangan yang menggembirakan bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia, terutamabagi warga Aceh sendiri yang tengah berjuang bangkit dari dampak banjir bandang dan longsoryang terjadi. Bencana alam tersebut telah menguji ketangguhan sosial dan fisik Aceh, namunrespons yang cepat dan terkoordinasi dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta aparatkeamanan mampu memberikan harapan baru bagi warga yang terdampak.
Negara hadir nyata dalam penanganan pascabencana melalui distribusi logistik, rehabilitasiinfrastruktur, dan layanan kesehatan yang berjalan efektif. BNPB memastikan bantuantersalurkan cepat dan tepat sasaran tanpa penumpukan, memenuhi kebutuhan dasarmasyarakat. Sejalan dengan itu, Presiden RI bersama lintas kementerian menetapkanpemulihan Aceh sebagai prioritas nasional, dengan sinergi pemerintah pusat dan daerah untukmempercepat rehabilitasi serta mendorong pemulihan sosial-ekonomi yang berkelanjutan dan menumbuhkan optimisme masyarakat terdampak.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratiknomenegaskan, percepatan pemulihan pascabencana alam di Provinsi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat melalui penguatan koordinasi lintas kementerian dan lembaga. Sinergi dan koordinasi yang kuat antara kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah menjadi kunci agar proses rehabilitasi dan rekonstruksi berjalan efektif dan berkelanjutan.
Keberhasilan penanganan ini juga tidak terlepas dari koordinasi yang solid antara berbagailembaga, seperti DPR melalui Satgas Pemulihan Pascabencana yang berkantor di lokasiterdampak, serta keterlibatan semua kementerian dan lembaga yang saling bersinergi untukmempercepat proses pemulihan di setiap wilayah Aceh yang terdampak. Dengan strategi seperti ini, setiap tantangan yang muncul baik dari aspek logistik maupun aspek teknis dapatdiidentifikasi dan diatasi secara cepat, menunjukkan efektivitas pendekatan manajemenbencana yang komprehensif.
Di tengah upaya besar pemulihan yang tengah berjalan, muncul pula tantangan lain yang tidakkalah penting, bagaimana menjaga ketenangan sosial dan menolak narasi-narasi provokatifyang bisa memecah belah masyarakat. Di masa sulit seperti sekarang, sebuah situasi daruratkemanusiaan sering kali bisa dimanfaatkan oleh oknum atau pihak-pihak tertentu untukmenebarkan isu-isu yang tidak relevan dengan tujuan kemanusiaan, termasuk penggunaansimbol-simbol separatis yang memiliki beban ideologis dan historis bagi Aceh.
Pemerintah terus mengintensifkan pemulihan pascabencana di Sumatra Utara, Sumatra Barat, hingga Aceh, sekaligus menumbuhkan optimisme masyarakat. Anggota pemrakarsa 98 Resolution Network, Haris Rusly Moti mengatakan pemerintah sedang memaksimalkanpenyampaian informasi ke publik terkait tahap dan langkah yang sangat optimal yang sedangditempuh dalam penanganan darurat bencana di Sumatra. Pemerintahan Prabowo melaluisejumlah jajaran pemerintahannya telah menjawab beragam disinformasi dan misinformasiyang menyudutkan seakan pemerintah pusat tidak prioritaskan penanganan bencana Sumatra.
Pemerintah bersama TNI dan Polri menegaskan sikap tegas menolak segala bentuk provokasiyang dapat mengganggu stabilitas dan proses pemulihan pascabencana. Aparat gabunganmembantu masyarakat, sementara setiap upaya provokatif akan ditindak sesuai aturan sebagailangkah preventif untuk menjaga persatuan bangsa di tengah agenda kemanusiaan.
Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto mengatakan TNI dan semua kementerian lembaga dan masyarakat sedang bekerja untuk membantu percepatan pemulihan akibat bencana alam. Saya harapkan tidak ada kelompok-kelompok yang memprovokasi yang mengganggu proses tersebut. Pihaknya akan menindak tegas kelompok-kelompok yang melakukan provokasi, termasuk melakukan pengibaran bendera GAM, di tengah upaya percepatan penangananbencana banjir dan longsor dilakukan pemerintah dan masyarakat.
Masyarakat Aceh sendiri telah menunjukkan kedewasaan dan solidaritas luar biasa dalammenyikapi situasi ini. Dalam banyak kesempatan, warga secara kolektif menyatakan dukunganmereka terhadap proses pemulihan yang tengah terjadi, sekaligus menolak segala bentukprovokasi yang bisa mengganggu keharmonisan sosial. Pemerintah daerah bersamamasyarakat telah melakukan sosialisasi intensif melalui berbagai saluran, dari pertemuan tatapmuka hingga kampanye edukatif di ruang-ruang publik dan media sosial, agar narasi-narasiprovokatif tidak menyebar tanpa kontrol dan dipahami secara kritis oleh publik.
Solidaritas dan semangat gotong royong menjadi nilai-nilai yang kuat di tengah situasipascabencana ini. Masyarakat saling bahu membahu dalam kegiatan pemulihan, sembarimenjaga ketenangan dan saling menghormati satu sama lain. Ini adalah contoh nyatabagaimana semangat kebangsaan yang kuat mampu menjadi pelindung sosial yang efektif di tengah tantangan yang kompleks.
Danrem 011/Lilawangsa Kolonel Inf Ali Imran mengatakan perdamaian Aceh bukan hanyatanggung jawab negara, tetapi juga komitmen bersama seluruh elemen masyarakat untuk tidakkembali pada simbol, narasi, dan tindakan yang berpotensi memecah belah.
Dengan demikian, gambaran yang kita lihat di Aceh hari ini adalah sebuah harmoni yang luarbiasa antara kekuatan institusi dan kekuatan sosial masyarakat. Di satu sisi, responspemerintah yang cepat, tepat, dan terkoordinasi mencerminkan efektivitas penangananpascabencana yang patut diapresiasi. Di sisi lain, kesadaran kolektif masyarakat untuk menolakprovokasi serta mendukung proses pemulihan adalah bukti nyata dari kedewasaan sosial dan kekuatan solidaritas.
)* Pengamat Kebijakan Publik