Oleh : Erlangga Pratama
Perang Iran melawan Amerika Serikat-Israel dikhawatirkan menimbulkan krisis energi global, dan kekhawatiran terjadinya resesi ekonomi global juga mulai mencuat setelah harga minyak global dalam ICE Brent (harga minyak yang ditentukan negara-negara Teluk) dan West Texas Intermediate (WTI) mencapai US$ 100 per barel sampai US$ 130 per barel, namun Indonesia diyakini kuat secara ketahanan energi dan menjauh dari resesi.
Indonesia dinilai sebagai salah satu negara berkembang yang paling aman dari dampak krisis energi global akibat eskalasi konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Posisi ini menempatkan Indonesia dalam kategori negara dengan paparan risiko rendah namun memiliki bantalan ketahanan yang kuat (low exposure, strong buffer).
“Beberapa negara, termasuk Indonesia, tampak relatif terisolasi (dari dampak buruk) berkat perpaduan sumber daya energi domestik dan kebijakan bantalan yang kuat,” tulis laporan terbaru The Economist bertajuk “Which country is the biggest loser from the energy shock”.
Analisis tersebut menunjukkan bahwa Indonesia memiliki posisi strategis yang jauh lebih stabil dibandingkan negara tetangga seperti Vietnam. Meski sama-sama berada di zona low exposure, Indonesia tercatat memiliki skor ketahanan (resilience score) yang lebih tinggi, mengungguli Vietnam yang lebih rentan terhadap gangguan rantai pasok manufaktur global.
Ketangguhan energi nasional ini didorong oleh status Indonesia yang sedang berada dalam jalur tepat (on track) menuju swasembada BBM jenis solar. Optimalisasi pemanfaatan minyak sawit domestik sebagai bahan baku bahan bakar nabati menjadi faktor kunci berkurangnya ketergantungan pada pasar luar negeri.
Selain itu, posisi Indonesia diperkuat oleh ketersediaan cadangan minyak (proven reserves) yang mencapai angka 2,4 hingga 4,4 miliar barel. Dengan kapasitas tersebut, ketahanan produksi minyak nasional diprediksi masih mampu menopang kebutuhan dalam negeri hingga 10 hingga 12 tahun ke depan.
Sektor ketenagalistrikan juga menjadi pilar pertahanan utama karena mayoritas pembangkit listrik di Indonesia tidak bergantung pada impor gas yang sensitif terhadap konflik Timur Tengah. Sebaliknya, pasokan listrik nasional didominasi oleh sumber daya dalam negeri, yakni batu bara serta pengembangan pembangkit energi terbarukan.
Langkah diversifikasi impor BBM bensin yang dilakukan pemerintah juga dinilai efektif dalam memitigasi risiko. Dengan memperluas sumber pasokan, Indonesia tidak lagi hanya bergantung pada satu kawasan tertentu, sehingga guncangan di Selat Hormuz tidak langsung melumpuhkan distribusi energi nasional.
Berdasarkan data ketahanan energi 2024, Indonesia bersanding dengan negara-negara seperti India dan Filipina dalam kategori strong buffers. Hal ini kontras dengan negara-negara seperti Mesir atau Pakistan yang berada di zona high exposure dengan bantalan yang lemah, sehingga sangat rawan terhadap lonjakan harga minyak.
Stabilitas harga energi domestik menjadi krusial untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah ketidakpastian geopolitik. Struktur ekonomi Indonesia yang ditopang oleh konsumsi domestik dan komoditas ekspor juga menjadi nilai tambah dalam menyerap guncangan eksternal.
Dibandingkan negara yang murni mengandalkan impor energi untuk industri manufaktur, Indonesia memiliki ruang napas yang lebih lega. Dengan kombinasi kekayaan sumber daya alam dan kebijakan energi yang tepat sasaran, Indonesia optimistis mampu melewati badai krisis energi global. Ketahanan ini diharapkan menjadi daya tarik bagi investor global di tengah keraguan terhadap stabilitas ekonomi negara berkembang lainnya.
*Peta energi dunia*
Minyak memimpin di paling banyak negara, sementara batu bara tetap jadi pegangan di Asia. International Energy Agency dalam Energy Mapped 2026 memetakan 112 negara. Hasilnya tidak banyak berubah dari pola lama: minyak dominan di 39 negara, gas alam di 29 negara, lalu batu bara dan biomassa mengisi wilayah tertentu. Perbedaannya terlihat dari wilayah. Eropa dan Timur Tengah condong ke minyak dan gas. Asia bertahan dengan batu bara. Afrika masih mengandalkan biomassa untuk kebutuhan dasar. Minyak muncul sebagai sumber energi terbesar di 39 negara. Angka ini paling tinggi dibanding energi lain.
Gas alam berada di posisi kedua dengan 29 negara. Sumber ini banyak dipakai untuk listrik dan industri karena lebih fleksibel. Negara dengan jaringan pipa dan fasilitas LNG cenderung menempatkan gas sebagai sumber utama. Transisi energi di beberapa wilayah juga menjadikan gas sebagai tahap antara.
China, India, Indonesia, dan Vietnam masih mengandalkan batu bara. Konsumsi tinggi karena pasokan domestik tersedia dan pembangkit listrik sudah terbangun sejak lama. Dampaknya langsung ke emisi global. Negara-negara ini akan menentukan arah perubahan ke depan, terutama dalam pengurangan penggunaan batu bara.
Sementara, di banyak negara Afrika, biomassa masih dominan. Kayu bakar dan arang dipakai untuk kebutuhan rumah tangga. Akses listrik yang belum merata membuat pola ini bertahan. Di luar Afrika, hanya sedikit negara yang punya pola serupa, seperti Finlandia dan Pakistan.
*Indonesia tidak krisis energi minyak*
Menurut Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Muhammad Qodari (25 Maret 2026), Indonesia tidak mengalami krisis minyak. Situasi di Indonesia berbeda dengan Filipina, negara pertama di dunia yang mengumumkan status darurat energi nasional selama satu tahun.
Pertama, impor minyak Filipina sampai 85 persen dari kebutuhan. Jadi, produksi mereka hanya sekitar 15 persen. Kalau Indonesia, hampir 40 persen bisa diproduksi dari dalam negeri.
Kedua, ketergantungan Filipina pada Selat Hormuz di Iran sangat besar. Selat Hormuz adalah jalur pengiriman minyak dunia dari Asia Barat. Sedangkan, 80 persen minyak Filipina datang dari selat itu. Storage Filipina mungkin lebih banyak daripada Indonesia, bisa sampai 50 hari, tetapi kalau tidak ada pasokan yang continue karena impornya sangat besar, dan tergantung pada Selat Hormuz, maka angka 50 hari itu tidak ada artinya.
Kondisi cadangan minyak di Indonesia sangat bagus dengan alasannya. Pertama, kita punya kilang-kilang minyak yang bisa menampung dalam waktu sekitar katakanlah 25-30 hari, yang akan ditingkatkan kapasitasnya oleh Presiden menjadi beberapa puluh hari.
Kedua, Indonesia memiliki pasokan (supply) minyak yang terus berlanjut meski cadangannya lebih sedikit daripada Filipina. Di sisi lain, kebutuhan minyak Indonesia dari Selat Hormuz hanya sekitar 20 persen.
Sementara sejumlah strategi mitigasi sebagai upaya menjaga ketersediaan pasokan energi di tengah dinamika global dan konflik Timur Tengah saat ini antara lain : pertama, diversifikasi sumber pasokan energi, sehingga tidak bergantung pada satu wilayah atau negara tertentu. Strategi ini diharapkan bisa menjaga stabilitas pasokan apabila terjadi gangguan pada jalur distribusi atau dinamika geopolitik di kawasan tertentu. Kedua, dalam menjaga distribusi energi kepada masyarakat,Pertamina terus berkoordinasi dengan aparat penegak hukum serta Pemerintah Daerah untuk melakukan pengawasan terhadap distribusi di lapangan. Ketiga, masyarakat diimbau untuk bijak menggunakan energi, baik BBM dan LPG, serta melakukan penghematan sesuai kebutuhan dengan penggunaan alternatif energi dalam kegiatan sehari-hari, seperti penggunaan peralatan listrik rumah tangga untuk memasak maupun pemanas makanan.
*Indonesia masih jauh dari resesi*
Dalam beberapa bulan terakhir, probabilitas resesi di Amerika Serikat menunjukkan tren meningkat dan mendekati ambang psikologis 50 persen. Laporan dari Moody’s Analytics bahkan dinilai lebih pesimistis dibandingkan dengan konsensus Wall Street. Di sisi lain, pemodelan dari Oxford Economics memberikan perspektif penting, yaitu dunia baru akan terdorong ke jurang resesi jika harga minyak melonjak hingga sekitar 140 dolar AS per barel dan bertahan setidaknya selama dua bulan. Artinya, resesi global saat ini bukanlah keniscayaan, melainkan sangat bergantung pada intensitas dan durasi guncangan, terutama dari sisi energi dan geopolitik.
Menurut Dr. Aswin Rivai, Pemerhati Ekonomi Dan Dosen FEB-UPN Veteran, Jakarta, Indonesia memiliki sejumlah keunggulan struktural yang membuatnya relatif lebih tahan terhadap guncangan eksternal. Salah satu yang paling penting adalah dominasi konsumsi domestik. Sekitar 52–55 persen PDB Indonesia ditopang oleh konsumsi rumah tangga. Artinya, selama daya beli masyarakat tetap terjaga, ekonomi nasional masih memiliki bantalan yang cukup kuat.
Selain itu, reformasi fiskal dalam beberapa tahun terakhir telah memperkuat ketahanan APBN. Rasio utang pemerintah terhadap PDB masih berada di kisaran 38–40 persen, relatif rendah dibanding banyak negara lain.
Defisit fiskal juga telah kembali dijaga di bawah 3 persen setelah sempat melebar selama pandemi. Ruang fiskal ini penting sebagai amunisi jika pemerintah perlu mengeluarkan stimulus untuk meredam dampak perlambatan global.
Indonesia perlu bergerak dari sekadar respons reaktif menuju strategi yang lebih antisipatif dan terstruktur. Setidaknya terdapat lima langkah kunci. Pertama, pemerintah perlu menjaga defisit tetap terkendali, tetapi juga fleksibel dalam merespons krisis. Reformasi subsidi energi menjadi krusial, terutama dengan memperbaiki targeting agar lebih tepat sasaran. Dalam kondisi harga minyak tinggi, mekanisme penyesuaian otomatis (automatic adjustment) dapat mengurangi tekanan mendadak pada APBN.
Kedua, menjaga stabilitas nilai tukar dan arus modal. Koordinasi erat antara pemerintah dan Bank Indonesia harus diperkuat untuk mengantisipasi capital outflow. Intervensi valas, kebijakan suku bunga yang terukur, serta pendalaman pasar keuangan domestik menjadi instrumen penting untuk menjaga stabilitas rupiah.
Ketiga, mengurangi ketergantungan pada komoditas. Lonjakan harga komoditas memang menguntungkan dalam jangka pendek, tetapi menciptakan volatilitas tinggi.
Keempat, melindungi daya beli dan konsumsi domestik. Dengan konsumsi rumah tangga menyumbang lebih dari 50 persen PDB, menjaga daya beli adalah prioritas utama.
Kelima, mempercepat transformasi ekonomi dan produktivitas. Dalam jangka panjang, ketahanan ekonomi ditentukan oleh produktivitas. Investasi pada pendidikan, teknologi, dan infrastruktur digital harus dipercepat.
Skenario dari Oxford Economics menunjukkan bahwa dunia masih memiliki peluang untuk menghindari resesi, selama guncangan energi tidak mencapai titik ekstrem. Namun, ketidakpastian geopolitik membuat risiko tersebut tetap nyata dan tidak bisa diabaikan.
Indonesia berada pada posisi yang relatif kuat, tetapi bukan tanpa risiko. Ketahanan yang dimiliki saat ini harus ditransformasikan menjadi ketangguhan jangka panjang melalui kebijakan yang tepat, reformasi struktural, dan kesiapan menghadapi berbagai skenario. Last but not least, masa depan ekonomi Indonesia akan sangat ditentukan oleh kualitas respons kebijakan hari ini.
Penulis adalah pemerhati masalah strategis. Alumnus pasca sarjana Kajian Strategik Intelijen, Universitas Indonesia