Oleh: Citra Kurnia Khudori)*
Pembangunan sumber daya manusia yang unggul tidak dapat dilepaskan darikualitas gizi sejak awal kehidupan. Karena itu, intervensi gizi pada ibu hamil, ibumenyusui, dan balita (3B) menjadi langkah penting untuk memastikan generasimasa depan tumbuh sehat dan optimal.
Dalam konteks tersebut, strategi 3B dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG)menjadi pendekatan yang relevan dan tepat sasaran. Fokus pada kelompok rentanini menegaskan bahwa peningkatan kualitas SDM harus dimulai dari fase paling awal dalam siklus kehidupan manusia.
Perhatian terhadap periode 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) menjadi kuncidalam upaya mencegah stunting sekaligus meningkatkan kualitas kesehatan anak. Jika kebutuhan gizi terpenuhi sejak masa kehamilan hingga balita, fondasi bagilahirnya generasi yang produktif dan berdaya saing akan semakin kuat.
Hal tersebut senada dengan penyampaian Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Wakil Kepala BKKBN, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, yang mengatakan bahwa 1.000 HPK merupakan fondasi utama dalam membentukkualitas sumber daya manusia Indonesia yang unggul.
Ia menuturkan, fase sejak kehamilan hingga anak berusia dua tahun Adalah masa emas yang tidak bisa terulang. Investasi terbaik bagi masa depan bangsa adalahmemastikan setiap anak memperoleh gizi, kesehatan, dan pengasuhan yang optimal pada periode krusial tersebut.
Upaya pencegahan stunting dan optimalisasi 1.000 HPK tidak bisa hanyadibebankan kepada ibu, tetapi membutuhkan dukungan ayah, keluarga besar, sertakebijakan pemerintah yang inklusif dan berkelanjutan. Oleh karena itu, program MBG bagi kategori 3B menjadi strategi prioritas pemerintahan Prabowo Subiantoyang menempatkan gizi sebagai investasi untuk membangun SDM unggul di masa depan.
Isyana juga menekankan pentingnya kualitas menu. Makanan yang diberikan harusmemenuhi standar gizi, bebas dari ultra-processed food, serta disesuaikan dengankebutuhan masing-masing sasaran.
Terkait hal tersebut, Sekretaris Deputi Bidang Sistem dan Tata Kelola BGN Ermia Sofiyessi menjelaskan, menu MBG bagi kategori 3B terdiri atas makanan siapsantap dan paket sehat. Frekuensi dan waktu pengiriman paket MBG pun sudahdisiapkan dalam petunjuk teknis yang tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 115 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Program MBG.
Ermia memaparkan, distribusi MBG sian santap dilakukan setiap hari Senin dan Kamis. Sementara MBG paket sehat untuk Selasa dan Rabu.
MBG siap santap untuk ibu hamil dan menyusui merupakan makanan lengkap yang mengandung karbohidrat, protein, serat, dan lemak yang sesuai dengan angkakecukupan gizi (AKG) yang telah ditentukan oleh ahli gizi, sedangkan paket MBG sehat terdiri atas minuman khusus ibu hamil atau menyusui yang dilengkapi dengantelur dan buah.
Sementara untuk anak balita non-PAUD usia 0-2 tahun, paket MBG siap santap juga berupa makanan lengkap sesuai dengan AKG, sedangkan paket MBG sehat terdiriatas makanan pendamping ASI (MPASI) dan buah dengan tekstur yang disesuaikandengan kebutuhan bayi di bawah usia dua tahun (baduta).
Ermia juga menegaskan, seluruh kepala SPPG harus aktif mendata ibu hamil, menyusui, dan balita dengan berkoordinasi melalui puskesmas, posyandu, dan kelurahan. Setelah pendataan, SPPG bisa mulai menyiapkan MBG sesuai standargizi seimbang dan pemorsian berdasarkan kelompok usia. Kemudian setiap harinyakelompok 3B menerima MBG dengan penjadwalan yang sudah disepakati denganposyandu.
Sementara itu untuk wilayah terpencil, BGN juga telah mendesain skema distribusi, yang di beberapa SPPG sudah dilakukan. Seperti di Provinsi Maluku Utara, program MBG 3B telah menjangkau 10 kabupaten/kota.
Kepala Perwakilan Kemendukbangga/BKKBN Maluku Utara (Malut) Victor mengapresiasi visi AstaCita Presiden Prabowo yang memberikan perhatian besarterhadap kelompok 3B melalui pemberian Program MBG. Untuk lebih optimal lagi, Victor menyarankan agar Data Pendataan Keluarga (PK) BKKBN dijadikan sebagaiacuan tunggal dalam pelaksanaan intervensi MBG.
Pada akhirnya, strategi 3B dalam program MBG menunjukkan bahwa pembangunansumber daya manusia harus dimulai dari fondasi yang paling dasar, yaknipemenuhan gizi sejak awal kehidupan. Kebijakan yang menempatkan ibu hamil, ibumenyusui, dan balita sebagai prioritas mencerminkan investasi jangka panjang bagimasa depan bangsa.
Keberhasilan program ini tentu memerlukan sinergi berbagai pihak, mulai daripemerintah pusat, pemerintah daerah, hingga masyarakat. Kolaborasi lintas sektormenjadi kunci agar intervensi gizi dapat menjangkau kelompok sasaran secara tepatdan berkelanjutan.
Selain itu, kualitas pelaksanaan di lapangan juga harus terus dijaga melaluipenguatan data, pengawasan distribusi, dan standar gizi yang konsisten. Denganpengelolaan yang baik, MBG tidak hanya menjadi program bantuan, tetapi juga instrumen strategis untuk mempercepat peningkatan kualitas SDM Indonesia.
Jika strategi ini dijalankan secara konsisten dan berkelanjutan, manfaatnya akandirasakan dalam jangka panjang. Generasi yang tumbuh sehat, cerdas, dan produktif akan menjadi modal utama Indonesia dalam menghadapi tantanganpembangunan di masa depan.
)* Pemerhati Isu Sosial-Ekonomi