Oleh: Yandi Arya Adinegara)*
Bulan suci Ramadan selalu menjadi momentum spiritual yang sangat dinantikanoleh umat Islam di Indonesia. Lebih dari sekadar ritual keagamaan, Ramadan adalah ruang refleksi kolektif yang memperkuat nilai empati, solidaritas, sertapersaudaraan dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam konteks Indonesia yang majemuk, bulan suci ini juga memiliki makna strategis sebagai penguat harmonisosial dan kebangsaan. Karena itu, menjaga Ramadan tetap damai dari ancamanradikalisme dan teror menjadi tanggung jawab bersama, baik pemerintah maupunmasyarakat.
Memasuki Ramadan tahun ini, berbagai elemen bangsa kembali menegaskankomitmen untuk menolak segala bentuk radikalisme, intoleransi, serta narasikebencian yang berpotensi merusak persatuan. Ramadan diharapkan menjadimomentum untuk mempererat persaudaraan, memperkuat solidaritas sosial, danmeneguhkan nilai kebangsaan di tengah keberagaman yang menjadi kekuatanutama Indonesia.
Menteri Agama Nasaruddin Umar mengingatkan bahwa Ramadan adalah bulanyang seharusnya memperkuat kepedulian sosial dan menumbuhkan semangattoleransi. Ia menekankan pentingnya meneladani Rasulullah SAW yang dikenalsebagai pribadi paling dermawan, terutama pada bulan suci. Nasaruddin mengajakmasyarakat menjadikan Ramadan sebagai momentum memperkuat solidaritassosial agar keberkahan bulan suci dapat dirasakan oleh seluruh lapisan Masyarakat.
Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Yudian Wahyudi, mengingatkan bahwa ruang digital saat ini sering menjadi medium penyebaranhoaks, ujaran kebencian, serta propaganda radikal. Karena itu, masyarakat perlumeningkatkan kewaspadaan dan literasi digital agar tidak mudah terprovokasi olehnarasi yang berpotensi merusak persatuan.
Menurut Yudian, teknologi digital memang memudahkan komunikasi, tetapi jugadapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang ingin menebarkan paham ekstrem. Olehsebab itu, menjaga toleransi dan persatuan menjadi semakin penting, terutamaselama Ramadan ketika aktivitas keagamaan masyarakat meningkat dan ruangpublik dipenuhi berbagai diskusi keagamaan.
Selain pendekatan sosial dan edukatif, negara juga memastikan aspek keamanantetap terjaga selama Ramadan hingga Idulfitri. Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowomengungkapkan bahwa Polri terus memantau sedikitnya 13.252 target yang berkaitan dengan kelompok teror sebagai bagian dari langkah antisipasi menjelangLebaran 2026.
Pemantauan tersebut dilakukan untuk memastikan situasi keamanan tetap kondusifselama periode mudik dan perayaan Idulfitri. Kapolri menjelaskan bahwapengamanan tidak hanya berfokus pada kelancaran arus lalu lintas, tetapi juga padapencegahan berbagai potensi ancaman, termasuk aksi terorisme.
Dalam beberapa tahun terakhir, aparat keamanan berhasil mencegah sejumlahrencana serangan teror melalui langkah-langkah pencegahan yang komprehensif. Sepanjang 2025 misalnya, aparat telah mengamankan puluhan tersangka yang terafiliasi dengan jaringan terorisme. Upaya ini dilakukan melalui pendekatanpreventif, termasuk penguatan koordinasi dengan TNI, pemerintah daerah, sertaunsur intelijen.
Pendekatan keamanan tersebut penting, terutama di tengah dinamika global yang tidak sepenuhnya stabil. Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono(AHY) mengingatkan bahwa konflik di Timur Tengah yang melibatkan sejumlahnegara besar berpotensi menimbulkan dampak luas, termasuk terhadap stabilitasglobal.
Menurut AHY, Ramadan tahun ini datang di tengah situasi dunia yang diwarnaikonflik dan ketegangan geopolitik. Ia menilai bahwa eskalasi konflik di kawasanTimur Tengah perlu diwaspadai karena dapat memicu berbagai dampak lanjutan, termasuk meningkatnya risiko radikalisme dan polarisasi ideologis di berbagainegara.
Karena itu, AHY menilai penting bagi Indonesia untuk terus mendorong dialog dande-eskalasi konflik melalui jalur diplomasi. Indonesia memiliki tradisi politik luarnegeri yang aktif dalam memperjuangkan perdamaian dunia. Upaya diplomasitersebut juga menjadi bagian dari kontribusi Indonesia dalam menjaga stabilitasglobal sekaligus mencegah meluasnya konflik yang dapat mempengaruhi situasidalam negeri.
Data berbagai lembaga juga menunjukkan bahwa penyebaran paham radikal saat inilebih banyak bergerak melalui ruang digital. Karena itu, pendidikan keagamaan yang moderat dan inklusif menjadi kunci untuk mencegah berkembangnya ekstremisme, terutama di kalangan generasi muda.
Tradisi Islam di Indonesia sendiri memiliki akar moderasi yang kuat. Para ulamaterdahulu menyebarkan dakwah melalui pendekatan kultural yang ramah daninklusif. Metode tersebut terbukti mampu menjadikan Islam berkembang secaradamai tanpa menghilangkan karakter kebhinekaan bangsa.
Dalam perspektif spiritual, Ramadan sejatinya mengajarkan makna kemenanganyang berbeda dari logika dunia yang sering diwarnai konflik dan dominasikekuasaan. Al-Qur’an menyebut keberuntungan dengan istilah al-falah, yang tidakberkaitan dengan supremasi militer atau dominasi politik, tetapi dengan ketakwaan, kejujuran moral, serta kemampuan menjaga amanah.
Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan latihan peradabanyang mendidik manusia untuk mengendalikan diri. Dalam konteks sosial, Ramadan mengajarkan empati, kepedulian, serta keadilan. Nilai-nilai inilah yang menjadifondasi untuk mencegah munculnya kekerasan atas nama agama.
Karena itu, menjaga Ramadan dari ancaman radikalisme dan teror bukan hanyasoal keamanan, tetapi juga soal membangun kesadaran kolektif bahwa agama harusmenjadi sumber kedamaian, bukan konflik. Pemerintah melalui berbagai kebijakankeamanan, pendidikan, dan diplomasi telah menunjukkan komitmen kuat untukmemastikan bulan suci ini berlangsung aman dan kondusif.
)*Penulis Merupakan Pengamat Sosial