Oleh: Maya Romansa *)
Groundbreaking proyek hilirisasi menandai pergeseran nyata arah pembangunan ekonomi nasional menuju daerah sebagai pusat pertumbuhan baru. Peletakan batu pertama menjadi sinyal kuat bahwa negara mendorong industri bernilai tambah agar tumbuh lebih merata hingga ke pelosok wilayah. Hilirisasi tampil sebagai jembatan yang menghubungkan potensi sumber daya lokal dengan kesempatan ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat daerah.
Pemerintah secara resmi memulai gelombang baru hilirisasi industri melalui enam proyek strategis. Total investasi tahap awal mencapai sekitar Rp100 triliun hingga Rp101,5 triliun, angka yang mencerminkan keseriusan negara menjadikan sektor riil sebagai motor penggerak ekonomi daerah.
Sebaran proyek hilirisasi tersebut memperlihatkan pendekatan pembangunan yang tidak lagi terpusat. Pengolahan bauksit dan aluminium diarahkan ke Kalimantan Barat, pembangunan kilang dan refinery menyasar wilayah industri seperti Balikpapan, sementara proyek bioavtur, DME, serta hilirisasi sektor pertanian dan perikanan menyentuh kawasan sentra produksi di luar Jawa. Pola tersebut membuka peluang pemerataan investasi sekaligus memperkecil kesenjangan antarwilayah.
Anggota Komisi XII DPR RI Eddy Soeparno memandang kebijakan hilirisasi mineral sebagai instrumen strategis untuk menciptakan lapangan kerja berkualitas di daerah. Pengembangan proyek pengolahan dan pemurnian bauksit tidak hanya meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, tetapi juga memperluas serapan tenaga kerja formal dan terampil.
Eddy menilai ekosistem bauksit–alumina–aluminium terintegrasi yang dikembangkan Grup MIND ID menjadi contoh konkret bagaimana hilirisasi mampu menghadirkan manfaat langsung bagi masyarakat lokal.
Berdasarkan kajian pra kelayakan yang disusun BPI Danantara bersama Satuan Tugas Hilirisasi, proyek dengan nilai investasi sekitar Rp60 triliun tersebut diproyeksikan menyerap hingga 14.700 tenaga kerja baru, baik pada fase konstruksi maupun operasional.
Eddy menekankan bahwa investasi berskala besar itu menciptakan efek berganda yang meluas, karena industri pendukung seperti logistik, jasa, dan UMKM lokal ikut tumbuh mengikuti aktivitas utama proyek. Rantai ekonomi daerah bergerak lebih dinamis ketika industri pengolahan berdiri di dekat sumber bahan baku.
Urgensi hilirisasi semakin kuat jika dikaitkan dengan kebutuhan aluminium nasional yang masih bergantung pada impor. Kebutuhan domestik mencapai sekitar 1,2 juta ton per tahun, dengan lebih dari separuh masih dipenuhi dari luar negeri.
Padahal Indonesia memiliki sumber daya bauksit sekitar 7,78 miliar ton dan cadangan mencapai 2,86 miliar ton. Eddy melihat potensi tersebut sebagai fondasi penting untuk membangun industri aluminium nasional yang mandiri, berdaya saing, dan menyerap tenaga kerja secara berkelanjutan di daerah penghasil.
Dari sisi pemerintah, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menegaskan bahwa peletakan batu pertama enam proyek hilirisasi menjadi bagian dari upaya menggerakkan sektor riil dan memperkuat fundamental perekonomian nasional.
Pemerintah juga menyiapkan sekitar 12 proyek tambahan dengan target seluruh agenda awal dapat dimulai paling lambat Maret 2026. Langkah tersebut menunjukkan konsistensi negara dalam menjaga momentum investasi agar tidak terhenti pada tahap perencanaan.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya sebelumnya menyampaikan bahwa rencana groundbreaking tersebut dibahas langsung dalam pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO BPI Danantara Rosan Roeslani.
Teddy menjelaskan bahwa proyek-proyek hilirisasi tersebut akan tersebar di sejumlah provinsi dengan total investasi sekitar US$6 miliar atau setara Rp100 triliun. Agenda tersebut mencerminkan komitmen pemerintah mendorong percepatan hilirisasi sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi daerah yang berkelanjutan.
Dampak jangka menengah dari gelombang hilirisasi tersebut diproyeksikan menjaga pertumbuhan ekonomi nasional pada kisaran 4,9 hingga 5,4 persen sepanjang 2026. Lebih dari sekadar angka makro, hilirisasi memperkuat kemandirian industri nasional dengan mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah dan memperbaiki posisi Indonesia dalam rantai pasok global, khususnya pada industri hijau dan manufaktur masa depan.
Secara keseluruhan, groundbreaking proyek hilirisasi membuka pintu pertumbuhan ekonomi daerah secara lebih lebar dan merata. Investasi yang tersebar, penciptaan lapangan kerja lokal, serta peningkatan nilai tambah sumber daya memperlihatkan arah baru pembangunan yang lebih inklusif dan berkeadilan antarkawasan.
Hilirisasi menghadirkan peluang bagi daerah untuk naik kelas dalam struktur ekonomi nasional, dari wilayah pengekspor bahan mentah menjadi simpul industri yang terhubung dengan rantai pasok domestik maupun global.
Tantangan implementasi, kesiapan infrastruktur, kualitas sumber daya manusia, serta pengelolaan dampak sosial dan lingkungan tetap memerlukan perhatian serius agar manfaat pembangunan benar-benar dirasakan masyarakat setempat.
Namun dengan arah kebijakan yang konsisten, penguatan koordinasi lintas sektor, dan eksekusi yang disiplin, hilirisasi berpotensi menjadikan daerah bukan lagi sekadar pemasok bahan mentah, melainkan pusat pertumbuhan ekonomi nasional yang tangguh, berdaya saing, dan berkelanjutan. (*)
*) Penulis merupakan pemerhati ekonomi