ayo buat website

Program Swasembada Energi Jadi Katalis Pertumbuhan Ekonomi dan Penyerapan Tenaga Kerja

Suara Papua - Tuesday, 16 September 2025 - 19:49 WITA
Program Swasembada Energi Jadi Katalis Pertumbuhan Ekonomi dan Penyerapan Tenaga Kerja
 (Suara Papua)
Penulis
|
Editor

Oleh : Andhika Utama

Program swasembada energi menjadi salah satu agenda strategis pemerintah Indonesia di tengah dinamika global yang penuh tantangan. Ketergantungan terhadap impor energi, fluktuasi harga minyak dunia, serta transisi menuju energi hijau membuat kebutuhan akankemandirian energi semakin mendesak. Pemerintah menilai, swasembada energi tidak hanyamenjadi jawaban atas isu ketahanan nasional, melainkan juga motor penggerak pertumbuhanekonomi serta penciptaan lapangan kerja yang luas.

Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia terus menghadapi tantangan defisit neraca migasakibat tingginya impor bahan bakar minyak. Sementara itu, permintaan energi nasional terusmeningkat seiring pertumbuhan industri, pembangunan infrastruktur, serta kebutuhanmasyarakat. Kondisi ini mendorong pemerintah untuk melakukan percepatan program swasembada energi dengan memaksimalkan potensi sumber daya alam dalam negeri. Indonesia memiliki cadangan energi fosil yang masih cukup besar, ditambah potensi energibaru terbarukan (EBT) yang melimpah mulai dari panas bumi, angin, tenaga surya, hinggabioenergi.

Swasembada energi diproyeksikan menjadi katalis bagi transformasi ekonomi. Dengankemandirian energi, Indonesia dapat memastikan ketersediaan pasokan bagi industri dalamnegeri dengan harga yang lebih stabil. Hal ini akan memperkuat daya saing industrimanufaktur, transportasi, pertambangan, dan sektor lain yang sangat bergantung pada energi. Ketika biaya energi terkendali, investor memiliki keyakinan lebih besar untuk menanamkanmodalnya di Indonesia, sehingga membuka ruang tumbuhnya industri baru yang menyerapbanyak tenaga kerja.

Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menyampaikan bahwa realisasi investasi sektor ESDM pada semester I 2025 mencapai US$13,9 miliar (sekitar Rp226,4 triliun), meningkat 24,1% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya—menjadi capaian tertinggi dalam lima tahunterakhir.

Dari sisi pembangunan, program ini mendorong percepatan infrastruktur energi. Pemerintahmelalui BUMN energi dan kerja sama dengan swasta tengah gencar membangun kilangminyak, jaringan gas bumi, serta pembangkit listrik berbasis EBT. Proyek-proyek inimenyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, baik pada tahap konstruksi maupun operasional. Selain itu, pembangunan infrastruktur energi juga menumbuhkan industri pendukung, mulaidari jasa konstruksi, logistik, hingga manufaktur peralatan energi. Efek domino inilah yang menjadikan swasembada energi sebagai katalis pertumbuhan ekonomi sekaligus penciptaanlapangan kerja.

Tidak hanya di sektor formal, swasembada energi juga membuka peluang usaha di tingkatlokal. Pemanfaatan energi terbarukan berbasis komunitas, seperti pembangkit listrik tenagamikrohidro atau panel surya untuk desa, dapat melibatkan masyarakat secara langsung. Kehadiran energi murah dan berkelanjutan di daerah terpencil berpotensi mendorongtumbuhnya usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Dengan begitu, dampakswasembada energi tidak hanya dirasakan di kota-kota besar, tetapi juga di wilayah pedesaanyang selama ini terkendala akses energi.

Presiden Prabowo Subianto mengatakan bahwa Indonesia dapat mencapai swasembadaenergi dalam 6–7 tahun ke depan, dengan fokus pada listrik dan energi surya sebagai kunciutama transformasi energi.

Pemerintah menegaskan bahwa agenda ini sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045. Dalam visi tersebut, energi berdaulat menjadi tulang punggung transformasi ekonomi menuju negara maju. Presiden dan jajaran kabinet berulang kali menekankan bahwa kemandirian energibukan sekadar kebutuhan teknis, tetapi juga simbol kedaulatan bangsa. Dengan mengurangiketergantungan pada impor, Indonesia dapat menekan kerentanan terhadap gejolak global dan menjaga stabilitas ekonomi dalam jangka panjang.

Lebih jauh, program swasembada energi juga diharapkan menciptakan ekosistem inovasi. Generasi muda, perguruan tinggi, hingga start-up energi dilibatkan untuk mengembangkanteknologi ramah lingkungan yang mampu meningkatkan efisiensi produksi. Pemerintahmenyiapkan berbagai insentif, mulai dari pembiayaan riset hingga kemudahan perizinan, untuk mendorong keterlibatan swasta dan akademisi. Kolaborasi lintas sektor ini diharapkanmempercepat transfer teknologi serta mencetak tenaga kerja terampil yang sesuai dengankebutuhan industri energi masa depan.

Sementara itu, dari sisi kebijakan, pemerintah terus memperkuat regulasi untuk mempercepattransisi energi. Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) menargetkan bauran energi baruterbarukan mencapai 23 persen pada 2025 dan terus meningkat pada dekade berikutnya. Target ini bukan hanya soal kontribusi terhadap agenda global perubahan iklim, melainkanjuga peluang ekonomi baru yang menjanjikan. Pasar energi terbarukan global yang terusberkembang membuka kesempatan bagi Indonesia menjadi pemain utama, khususnya dalampengembangan baterai dan kendaraan listrik.

Di tengah tantangan global seperti perubahan iklim, geopolitik energi, dan ketidakpastianekonomi dunia, langkah Indonesia untuk mengejar swasembada energi menjadi strategi krusial. Selain memperkuat posisi Indonesia di kancah internasional, kemandirian energi juga berarti memberikan manfaat nyata bagi masyarakat: harga energi yang terjangkau, peluangkerja yang meluas, serta peningkatan kualitas hidup di berbagai daerah.

Pada akhirnya, swasembada energi tidak sekadar soal ketersediaan pasokan, melainkanstrategi besar untuk memastikan masa depan ekonomi Indonesia yang lebih kuat, berdaulat, dan berkelanjutan. Program ini bukan hanya membangun kemandirian energi, tetapi juga membangun harapan baru bagi jutaan tenaga kerja, menggerakkan ekonomi nasional, dan memperkokoh fondasi menuju Indonesia Emas 2045.

)* Pengamat Kebijakan Publik

Close Ads X
ayo buat website